Kabupaten Banjar- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman bagi warga Desa Galam Rabah, Kecamatan Cintapuri Darussalam, Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan.
Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran terjadi di sejumlah titik di sekitar desa. Api dengan cepat membesar di tengah vegetasi yang kering, bahkan sempat membakar sebuah bangunan tua yang berada tidak jauh dari Taman Kanak-kanak (TK).
Kondisi tersebut membuat warga meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kobaran api mulai mendekati kawasan permukiman dan fasilitas umum.
Upaya pemadaman pun dilakukan secara gotong royong dengan peralatan yang tersedia. Tidak hanya kaum pria, sejumlah perempuan juga turun langsung ke lokasi untuk membantu memadamkan api dan mencegah kobaran merambat ke rumah.
Ernawati menjadi salah satu warga yang ikut berjibaku melakukan pemadaman. Bersama sejumlah perempuan lainnya, ia turut berada di lapangan ketika api mulai mendekati kawasan permukiman.
Menurut Ernawati, keterlibatan warga menjadi penting karena kebakaran dapat bergerak cepat di tengah kondisi lahan yang kering. Warga berupaya memadamkan api sebisanya sembari menjaga agar kobaran tidak semakin mendekati rumah.
Kebakaran yang terjadi pada malam sebelumnya bahkan sempat membuat warga khawatir. Api mendekati sebuah gudang tua yang berada di sekitar TK.
“Gudangnya memang sudah roboh dan tidak terpakai. Tapi kalau tidak dijaga, tetap berbahaya. Kalau gudang terbakar, api bisa merembet ke bangunan yang masih digunakan untuk belajar,” ujarnya.
Api juga membakar area perkebunan sawit di sekitar lokasi. Warga berupaya memastikan kobaran tidak bergerak ke arah permukiman.
“Lahan sawit hampir semuanya kena. Yang penting api jangan sampai masuk ke permukiman,” katanya.
Beruntung, bangunan TK masih berhasil diselamatkan meski jaraknya dengan kobaran api sempat sangat dekat.
“Kalau TK alhamdulillah aman, tidak terbakar. Tapi jaraknya dengan api waktu itu sekitar dua meter,” ungkapnya.
Pemadaman Andalkan Peralatan Seadanya

Upaya warga memadamkan karhutla tidak selalu berjalan mudah. Keterbatasan sumber air dan peralatan menjadi kendala utama yang dihadapi ketika api berada cukup jauh dari permukiman.
“Masalahnya air tidak ada. Memang ada air di sungai, tapi selangnya kurang. Dari sungai menuju api di belakang rumah saja tidak sampai,” jelas Ernawati.
Pada kebakaran malam tersebut, api mulai terlihat sekitar pukul 18.00 Wita. Kobaran bertahan hingga malam dan baru berhasil dikendalikan sekitar pukul 01.00 Wita.
“Api datang mulai magrib, sekitar setengah enam sampai jam enam. Nyala sampai jam 11 atau 12 malam, baru bisa dipadamkan sekitar jam satu,” tuturnya.
Setelah api berhasil dikendalikan, warga tidak langsung meninggalkan lokasi. Sejumlah warga masih berjaga hingga dini hari untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
“Bapak-bapak di warung itu stand by sampai subuh,” katanya.
Kekompakan warga menjadi salah satu kekuatan dalam menghadapi kebakaran. Bantuan juga datang dari warga dan tim pemadam dari desa sekitar.
“Alhamdulillah warga kompak. Kami juga mendapat bantuan dari desa sebelah, ada tim pemadam dari sana yang membantu,” ujarnya.
Bagi warga Galam Rabah, ancaman karhutla bukan hanya persoalan lahan yang terbakar. Ketika api bergerak mendekati permukiman, keselamatan rumah dan fasilitas umum ikut menjadi perhatian.
Karena itu, warga berharap penanganan karhutla di wilayah tersebut dapat diperkuat, terutama melalui dukungan peralatan pemadaman dan sumber air. Dengan kondisi lahan yang kering, keberadaan sarana penanganan dinilai penting agar api dapat lebih cepat dikendalikan sebelum meluas.














