Kabupaten Banjar- Warga kawasan pertokoan Pusat Perbelanjaan Sekumpul (PPS), Martapura, Kabupaten Banjar, digegerkan dengan penemuan jasad seorang pria di dalam ruko Blok G 16, Kamis (15/10/2026) siang. Korban ditemukan dalam kondisi membusuk setelah warga mencium bau menyengat dari bangunan yang terkunci.
Korban diketahui berinisial P (50), yang sehari-hari tinggal seorang diri di ruko tersebut. Penemuan jasad bermula ketika warga mencurigai bau tidak sedap yang berasal dari dalam bangunan.
Kapolsek Martapura Iptu Aulya Safi’i mengatakan, pihaknya menerima laporan masyarakat sekitar pukul 12.30 Wita terkait kecurigaan tersebut.
“Setelah menerima laporan, kami melakukan pengecekan ke lokasi. Karena ruko dalam keadaan terkunci, kami bersama rekan-rekan pemadam kebakaran (Damkar) melakukan pembongkaran untuk masuk ke dalam,” ujarnya.
Setelah berhasil masuk, petugas mendapati korban tergeletak dalam posisi terlentang di lantai dua, tepatnya di depan televisi. Petugas kemudian melakukan penanganan di tempat kejadian perkara (TKP) sebelum mengevakuasi jasad korban ke RSUD Ratu Zalecha Martapura untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, korban terakhir kali terlihat sekitar lima hari sebelum ditemukan. Korban juga diketahui tinggal seorang diri setelah bercerai dengan istrinya sekitar enam bulan lalu.
Kondisi jasad yang telah membusuk mengindikasikan korban kemungkinan meninggal beberapa hari sebelum ditemukan. Namun, waktu dan penyebab pasti kematian masih menunggu hasil pemeriksaan medis.
“Untuk tanda-tanda kekerasan, saat ini masih kami dalami. Kami menunggu pemeriksaan dari pihak rumah sakit dan dokter forensik, baik pemeriksaan luar maupun autopsi, untuk memastikan penyebab kematian korban,” jelas Aulya.
Ia menegaskan, kondisi jasad yang sudah membusuk membuat petugas belum dapat memastikan ada atau tidaknya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Sementara itu, Umi Kulsum, tetangga korban yang sehari-hari berjualan makanan di sekitar lokasi, mengaku terakhir melihat P sekitar lima hari sebelumnya. Menurutnya, korban memang tinggal seorang diri dan dikenal cenderung tertutup.
Interaksi Umi dengan korban selama ini hanya sebatas saling menyapa atau ketika P membeli makanan di warungnya.
Umi menuturkan, awalnya ia mengira bau menyengat di sekitar ruko berasal dari bangkai binatang, seperti kucing atau tikus. Namun, karena bau tersebut semakin mencurigakan, ia meminta bantuan tetangga lain sebelum melaporkan kejadian itu kepada polisi.
Petugas kepolisian bersama personel Damkar dan relawan Emergency Banjar Response (EBR) kemudian melakukan penanganan hingga jasad korban berhasil dievakuasi.
Menurut Umi, semasa hidupnya P menjalankan usaha jasa servis dan penjualan aksesori mobil. Namun, ruko tempat korban ditemukan disebut jarang dibuka. Korban biasanya membuka tempat usahanya ketika ada pelanggan atau saat mendapat panggilan untuk melakukan servis di luar lokasi.
Hingga kini, penemuan jasad tersebut masih dalam penanganan pihak kepolisian. Penyebab pasti kematian P belum dapat disimpulkan dan masih menunggu hasil pemeriksaan medis serta penyelidikan lebih lanjut.













