Banjarbaru- Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Selatan mencatat seluas 6.691 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan hingga 31 Juli 2026. Dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang akibat pengaruh El Nino juga menyebabkan sebagian tanaman mengalami puso.
Kepala BPTPH Kalimantan Selatan, Lestari Fatria Wahyuni, mengatakan pihaknya terus melakukan pendampingan kepada petani melalui petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), baik dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman maupun mitigasi dampak perubahan iklim.
“Sebagai unit pelaksana teknis Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, kami terus melakukan pengawalan di lapangan. Sesuai prediksi BMKG, puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September, bahkan berpotensi berlangsung lebih panjang akibat pengaruh El Nino,” ujarnya.
Berdasarkan data BPTPH per 31 Juli 2026, luas lahan padi yang terdampak kekeringan mencapai 6.691 hektare, dengan sekitar 1,3 hektare di antaranya mengalami puso. Sementara pada komoditas jagung, kekeringan tercatat terjadi di lahan seluas 5,5 hektare dan hingga kini belum dilaporkan adanya tanaman yang mengalami puso.
Lestari menjelaskan, Kabupaten Tanah Laut menjadi wilayah dengan dampak kekeringan terluas, yakni mencapai 3.383 hektare. Disusul Kabupaten Barito Kuala seluas 1.919 hektare, Kabupaten Banjar 622 hektare, dan Kabupaten Tanah Bumbu 446 hektare.
Untuk kejadian puso, BPTPH mencatat terjadi di Kabupaten Barito Kuala seluas 1 hektare dan Kota Banjarbaru seluas 0,3 hektare.
“Seiring masih tingginya suhu udara dan belum turunnya hujan, kami memperkirakan luas lahan terdampak kekeringan masih berpotensi bertambah,” katanya.
Mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, BPTPH telah menginstruksikan seluruh petugas POPT di lapangan untuk memantau kondisi sumber air di kawasan pertanian. Koordinasi juga dilakukan bersama dinas pertanian kabupaten/kota serta Balai Wilayah Sungai Kementerian Pekerjaan Umum guna mengoptimalkan pemanfaatan sumber air melalui sistem pompanisasi.
Khusus di kawasan lahan pasang surut seperti Kabupaten Barito Kuala yang memiliki sumber air dengan tingkat keasaman tinggi, BPTPH mendorong pemanfaatan sumur pertanian sebagai alternatif pengairan. Pemerintah juga berharap dukungan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan untuk membantu mengurangi dampak kekeringan di sejumlah wilayah.
Selain lahan tanam, kekeringan juga berdampak pada areal persemaian padi. Hingga akhir Juli 2026, tercatat 275 kilogram benih persemaian terdampak, dengan 125 kilogram di antaranya mengalami puso. Dampak terbesar terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu dengan persemaian terdampak mencapai 150 kilogram, sedangkan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan seluruh 125 kilogram persemaian yang terdampak dilaporkan mengalami puso.
Menghadapi puncak musim kemarau, Lestari mengimbau petani untuk tidak membakar sisa jerami setelah panen. Menurutnya, jerami dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos melalui penerapan Pengolahan Lahan Tanpa Bakar (PLTB), sehingga selain meningkatkan kesuburan tanah juga dapat mengurangi risiko kebakaran lahan.
“Kami mengajak petani untuk tidak membakar jerami setelah panen. Jerami dapat dimanfaatkan kembali sebagai kompos melalui pengolahan lahan tanpa bakar sehingga lebih ramah lingkungan dan bermanfaat bagi kesuburan tanah,” pungkasnya.
Sumber:MCKalsel












