KabupatenBanjar- Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPRP) Kabupaten Banjar memastikan penanganan jalan yang longsor di Desa Pingaran Ilir, Kecamatan Astambul, akan dilakukan secara permanen. Sebelum pekerjaan dimulai, pemerintah akan melakukan penyelidikan kondisi tanah sebagai dasar penentuan metode perbaikan.
Saat meninjau lokasi pada Senin (20/7/2026), Kepala Bidang Bina Marga PUPRP Kabupaten Banjar, Milky Rosadie, mengatakan tim teknis akan terlebih dahulu melaksanakan uji sondir untuk mengetahui karakteristik tanah di titik longsor.
“Longsor mulai terjadi pada Jumat lalu dan puncaknya terjadi hari Minggu. Setelah kami meninjau bersama tim teknis, langkah selanjutnya adalah melakukan penyelidikan tanah, termasuk uji sondir, untuk mengetahui kondisi tanah di lokasi,” ujarnya.
Berdasarkan hasil pengamatan awal, longsor diduga dipicu oleh perubahan kondisi tanah akibat menurunnya kadar air di kawasan tersebut. Kondisi itu menyebabkan daya dukung tanah melemah sehingga memicu pergerakan tanah.
“Kemungkinan besar ini terjadi akibat penyusutan permukaan air tanah. Ketika tanah yang sebelumnya jenuh air menjadi kering, kekuatannya berkurang sehingga memicu longsor,” jelasnya.
Atas dasar pertimbangan teknis tersebut, PUPRP memilih melakukan perbaikan permanen dibandingkan penanganan sementara yang dinilai tidak memberikan solusi jangka panjang.
“Kami mengarah pada penanganan permanen. Penahan sementara kemungkinan tidak kami lakukan karena kurang efektif dan hanya akan membuang anggaran,” katanya.
Sembari menunggu proses perencanaan dan penyusunan desain konstruksi, pemerintah akan menyediakan jalur sementara berupa titian berbahan kayu ulin agar mobilitas warga tetap berjalan.
“Untuk akses masyarakat akan kami upayakan tetap tersedia dengan membangun titian ulin. Kami akan segera menyiapkan tenaga kerja dan material agar bisa dikerjakan secepatnya,” ungkap Milky.
Selain menyiapkan penanganan jalan, PUPRP juga telah berkoordinasi dengan PLN terkait tiang listrik yang berada di dekat titik longsor. Menurut Milky, laporan telah disampaikan sejak malam hari dan penanganan mulai dilakukan pada Senin.
Terkait kebutuhan anggaran, Milky menegaskan nominalnya belum dapat dipastikan karena masih menunggu hasil penyelidikan teknis di lapangan.
“Besaran anggarannya belum bisa kami sampaikan. Kami harus mengetahui dulu kedalaman tanah keras melalui pengeboran dan penyelidikan tanah. Setelah itu baru bisa ditentukan metode penanganan dan kebutuhan anggarannya,” jelasnya.
Ia menyebutkan terdapat dua alternatif konstruksi yang sedang dikaji, yakni pembangunan siring penahan tebing atau pemasangan struktur box. Metode yang dipilih nantinya akan disesuaikan dengan hasil investigasi teknis.
Milky juga membenarkan ruas jalan yang mengalami longsor tersebut merupakan bagian dari proyek rehabilitasi yang baru rampung dikerjakan.
“Kontraknya pada April 2026 dan baru selesai dikerjakan sekitar satu bulan lalu dengan pagu anggaran sekitar Rp400 juta,” pungkasnya.














