330 Hektare Tanaman Padi di Kabupaten Banjar Kekurangan Pasokan Air

Petani di Martapura Timur, Ahmad Khosasi, mulai merasakan dampak musim kemarau setelah lahan sawahnya mengalami kekurangan pasokan air.
banner 468x60

Kabupaten Banjar- Musim kemarau yang masih berlangsung berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Banjar. Dinas Pertanian mencatat sekitar 330 hektare lahan persawahan mengalami kekurangan pasokan air. Seluruh lahan tersebut merupakan bagian dari 890 hektare areal tanam padi yang saat ini berada pada fase pertumbuhan.

Apabila dalam beberapa pekan ke depan hujan belum turun dan pasokan air tidak segera terpenuhi, ratusan hektare tanaman padi terancam mengalami puso atau gagal panen. Kondisi ini tidak hanya berpotensi menimbulkan kerugian bagi petani, tetapi juga dapat memengaruhi produksi padi di daerah.

banner 336x280

Ancaman tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan air masih menjadi persoalan mendasar bagi sebagian kawasan pertanian di Kabupaten Banjar. Saat musim kemarau berkepanjangan, lahan yang bergantung pada air permukaan maupun tadah hujan menjadi yang paling rentan terdampak.

Menghadapi situasi tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar menyatakan telah melakukan langkah antisipasi sejak awal musim kemarau. Upaya yang dilakukan meliputi pemantauan lapangan, penyampaian peringatan dini kepada petani, serta penyaluran bantuan mesin pompa air untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, mengatakan petani diminta segera melaporkan apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air agar bantuan dapat segera disalurkan.

“Antisipasi kita mulai sejak awal. Sebelum musim kemarau kami sudah mengimbau petani agar mewaspadai potensi kekeringan. Jika mulai terjadi kekurangan air, segera laporkan kepada penyuluh atau dinas. Seluruh pompa yang tersedia akan kami distribusikan sesuai kebutuhan di lapangan,” ujarnya.

Berdasarkan pendataan Dinas Pertanian, Kecamatan Beruntung Baru dan Sungai Tabuk menjadi wilayah dengan luasan sawah terdampak paling besar.

Sementara itu, kondisi di lapangan menunjukkan tantangan yang lebih kompleks. Di Desa Keramat Kecamatan Martapura Timur, tanah persawahan mulai mengering dan retak setelah lebih dari satu bulan tidak diguyur hujan.

Salah seorang petani, Ahmad Khosasi, mengaku terus berupaya mempertahankan tanaman padinya meski peluang panen semakin tidak menentu.

“Sudah sebulan tidak ada hujan, tanaman padi yang ada ini bisa jadi tidak berbuah. Namun saya dan beberapa petani lainnya di desa ini masih bertahan dan berupaya menyelamatkan tanaman kami sambil berharap segera turun hujan,” katanya, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Khosasi, bantuan mesin pompa memang dapat membantu, tetapi efektivitasnya menjadi terbatas ketika sumber air juga mulai mengering. Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penyediaan pompa, melainkan juga membangun sumber air yang dapat dimanfaatkan saat musim kemarau.

“Kalau bisa dibuatkan sumur bor di lahan pertanian. Misalnya untuk setiap lima sampai sepuluh hektare ada satu sumur bor, sehingga saat kemarau petani masih punya sumber air untuk menyelamatkan tanaman,” harapnya.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.