Program Intan Sikapayu Kembali Berbuah Manis, Ratusan Kilogram Ikan Papuyu Dipanen di Sungai Tabuk

banner 468x60

Kabupaten Banjar- Kelompok pembudidaya ikan di Jalan Pantai Surung, Desa Lok Baintan Luar Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar, melaksanakan panen perdana ikan papuyu hasil budidaya menggunakan kolam bundar, Senin (8/6/2026). Kegiatan ini menjadi tonggak awal keberhasilan pengembangan budidaya ikan lokal melalui inovasi yang digagas Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar.

Program tersebut merupakan bagian dari Intan Sikapayu atau Inovasi Tangguh Sinergi Kampung Ikan Papuyu, yang dikembangkan sebagai lanjutan dari program Gerbang Kakapayu. Inovasi ini bertujuan meningkatkan produksi ikan papuyu sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui pengembangan komoditas perikanan lokal bernilai tinggi.

banner 336x280

Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, menjelaskan bahwa budidaya ikan papuyu dengan sistem kolam bundar merupakan bentuk transformasi dari metode budidaya konvensional menggunakan kolam tanah menuju sistem yang lebih efisien dan adaptif.

“Ini merupakan transformasi dari kolam tanah ke kolam bundar. Budidaya model ini bisa diterapkan pada skala rumah tangga dengan halaman yang tidak terlalu luas serta biaya yang relatif lebih terjangkau,” ujarnya.

Menurut Bandi, penggunaan kolam bundar juga memberikan sejumlah keuntungan, terutama dalam menghadapi perubahan cuaca yang kerap menjadi tantangan bagi para pembudidaya ikan.

“Kolam bundar ini menjadi salah satu solusi untuk memitigasi risiko bencana seperti banjir dan kekeringan. Pengelolaan air lebih mudah dan kebutuhan air juga tidak terlalu besar,” tambahnya.

Desa Lok Baintan Luar menjadi salah satu desa percontohan dalam pengembangan program Intan Sikapayu. Hingga saat ini, program tersebut telah direplikasi di sekitar 10 desa di Kabupaten Banjar sebagai upaya memperluas budidaya ikan papuyu secara berkelanjutan.

Pada panen perdana ini, hasil produksi diperkirakan mencapai antara 200 hingga 300 kilogram ikan papuyu. Capaian tersebut dinilai cukup menggembirakan mengingat masa budidaya baru berlangsung sekitar tujuh bulan dan masih berada dalam tahap adaptasi teknologi.

“Untuk panen perdana ini diperkirakan mencapai sekitar 200 sampai 300 kilogram. Ini merupakan hasil yang cukup baik karena proses transformasi dari kolam tanah ke kolam bundar memang memiliki tantangan tersendiri,” kata Bandi.

Dukungan terhadap pengembangan budidaya ikan papuyu juga datang dari Komisi II DPRD Kabupaten Banjar. Anggota Komisi II DPRD Banjar, M. Zaini, berharap hasil panen tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi, tetapi juga digunakan sebagai indukan dan sumber benih guna menjaga keberlanjutan program.

“Harapan kami setelah dipanen sebagian bisa dijadikan indukan atau bibit agar budidaya ini terus berlanjut dan berkembang. Jangan sampai berhenti hanya pada panen pertama saja,” ujarnya.

Ia menilai ikan papuyu memiliki prospek yang sangat baik sebagai komoditas unggulan daerah karena memiliki cita rasa khas yang menjadi daya tarik tersendiri di pasaran.

Sementara itu, salah satu pembudidaya ikan papuyu, Aidi Rahman, mengaku sempat menghadapi berbagai kendala selama masa pemeliharaan, terutama saat kondisi cuaca yang tidak menentu memicu munculnya penyakit pada ikan.

“Kesulitannya waktu cuaca berubah-ubah, kadang hujan kemudian panas. Ada beberapa ikan yang terserang penyakit, tetapi Alhamdulillah mendapat pendampingan dan bantuan dari dinas sehingga bisa ditangani,” ungkapnya.

Aidi mengatakan hasil panen perdana tersebut akan kembali diinvestasikan untuk mengembangkan usaha budidaya, termasuk penambahan bibit guna meningkatkan produksi pada periode berikutnya.

“Hasil panen ini insya Allah akan kami gunakan kembali untuk pengembangan budidaya dan penambahan bibit agar hasilnya bisa lebih baik lagi ke depan,” pungkasnya.

Keberhasilan panen perdana ini menjadi bukti bahwa inovasi budidaya ikan papuyu melalui kolam bundar memiliki prospek yang menjanjikan. Selain meningkatkan produktivitas, metode tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha perikanan meski dengan keterbatasan lahan.

 

 

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.