
Kabupaten Banjar- Budidaya ikan keramba jaring apung di aliran Sungai Riam Kanan, Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar, kembali diterpa kematian ikan secara massal. Peristiwa yang telah berlangsung selama tiga hari terakhir ini menyebabkan berton-ton ikan mati dan mengakibatkan kerugian besar bagi pembudidaya.
Pembudidaya menduga kematian ikan dipicu menurunnya debit air sungai selama musim kemarau. Kondisi tersebut diduga menyebabkan kadar oksigen terlarut di dalam air berkurang sehingga ikan tidak mampu bertahan hidup.

Salah seorang pembudidaya, Robi Hamdi, mengatakan fenomena serupa hampir selalu terjadi setiap musim kemarau. Menurutnya, dalam tiga hari terakhir ikan di sejumlah keramba mulai mati, termasuk yang sudah siap panen maupun yang masih dalam tahap pembesaran.
“Hampir setiap musim kemarau seperti ini, karena surutnya debit air sungai. Saat ini keramba saya ada lima dan ikannya ada siap panen ada yang masih tahap pembesaran, rata-rata satu keramba sudah 1,5 ton ikannya mati mulai Senin tadi,” ungkapnya saat ditemui Rabu (8/7/2026).
Akibat kejadian ini, Robi mengaku mengalami kerugian yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
“Kalau dihitung-hitung dari seluruh keramba saya itu, ada 200 jutaan,” ucapnya.

Kondisi serupa juga dialami pembudidaya lainnya, Ridhawati. Ia khawatir kematian ikan akan terus bertambah apabila tidak ada hujan maupun tambahan pasokan air ke aliran Sungai Riam Kanan.
“Kalau tidak turun hujan atau air dari bendungan tidak dialirkan ke sini, kira-kira sungai ini dalam dua pekan akan kering dan tentunya kerugian kami bertambah banyak,” katanya.
Ridhawati menyebut satu keramba miliknya berisi sekitar dua ton ikan dengan nilai mencapai Rp50 juta. Sementara total keramba yang dimilikinya mencapai 10 unit.
“Jadi untuk satu keramba milik saya saja kerugiannya itu 50 juta, keramba saya ada 10. Nah berapa banyak kalau semua keramba yang ada di aliran sungai ini,” ucapnya lirih.
Para pembudidaya berharap pemerintah dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengurangi dampak kematian ikan yang terus berulang setiap musim kemarau. Mereka menilai penanganan jangka panjang diperlukan agar usaha budidaya keramba di Sungai Riam Kanan tetap dapat bertahan dan tidak terus mengalami kerugian besar setiap tahun.












